10.29.2011

Aku?

     Aku berdiri tegak di tengah lapangan bersama ke-19 orang teman sepasukanku. Kami baru saja selesai istirahat sholat ashar. Dan kami berhasil tidak telat kembali ke lapangan. Hari ini, entah kenapa lapangan sangat sepi. Hanya ada aku, 19 temanku, dan kakak pelatih yang tidak lebih dari 10 orang. Sore ini aku merasa sangat bersemangat. Aku berdiri tegak dengan senyum dan tatapan yakin. Begitu juga teman-temanku, kurasa.
  "Sambil siap mohon perhatian" ujar Yuda, komandan pasukanku.
  "SIAP!" seru kami serempak. Kami menoleh ke arahnya.
  "Tadi kata kakak-kakaknya, habis ini semua harus tutup mata. Instruksi selanjutnya ada di kakak-kakak. Jangan ada yang ngintip! Ngintip, seorang 5 seri! Apa dapat dimengerti?"
  "SIAP MENGERTI!" seru kami. Ada acara apa, ya? Apa ada bintal? Apapun itulah, aku sudah tidak terlalu peduli. Ikuti saja semuanya dengan baik. Aku menutup mataku. Dan tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah belakang.
  "Yang saya atau temen saya tarik, ikuti saja tanpa membuka mata" kata Kak Lusi, salah satu pelatihku. Aku percaya pada mereka. Mungkin latihannya akan dibagi ke dalam beberapa kelompok. Aku tenang-tenang saja. Tapi rasanya sudah lebih dari 15 menit aku berdiri di lapangan. Kakiku mulai terasa pegal karena tidak sedikitpun bergerak. Tidak ada yang menarikku. Tapi apa dayaku. Kalau aku mengintip, nanti semuanya kena hukuman. Aku menggigit-gigit bibir, memancing. Tapi tidak ada yang menegurku. Kurasa, ada yang tidak beres. Apa hanya aku yang tidak ditarik?
     Pluk! Ada benda yang mendarat di kepalaku. Apa itu?
  "Aduh" ujarku pelan sambil mengusap kepala. Tidak ada yang memarahi.
  "Heh" ujar sebuah suara. Suara yang cukup familiar bagiku. Aku mengintip dengan sebelah mataku.
  "Udah selow aja. Gua gak liat kakak-kakak lo di sini"
  "Eh, Farris? Ngapain lo di sini? Yang lain pada ke mana?" tanyaku keheranan.
  "Lah? Yang ada gua yang nanya ke lo. Ngapain berdiri di sini sendirian di tengah lapangan dengan mata tertutup? Lagi main petak umpet?" Farris menertawakanku.
  "Tadi gua baris di sini sama anak-anak yang lain. Terus instruksinya emang disuruh tutup mata. Anak-anak yang lain?" tanyaku sambil menggigit bibir. Sekolah sepi, padahal baru jam 4. Cuma aku dan Farris.
  "Gausah takut. Lo  gak sendirian. Kan ada gua hahaha. Temen pasus lo? Tadi kok gua liat udah pada bawa tas keluar gerbang ya? Dari kapan lo berdiri?" Farris berusaha mengajakku ngobrol. Menenangkanku.
  "Kok jahat gitu sih? Gua dijailin ya? Lo bersekongkol sama mereka, ya?" ujarku dengan sinis dan penuh kecurigaan. Aku benci permainan ini.
  "Gua gak ikutan... Tadi gua dari kelas ngambil barang ketinggalan.Gua pake baju rumahan juga..." ujar Farris berusaha membuatku percaya padanya.
  "Iya gua percaya. Tadi lo mukul gua pake apa?" tanyaku. Entah kenapa, kehadiran Farris membuatku merasa lebih tenang. Setidaknya aku tidak sendiri.
  "Pake ini" Farris menunjukkan setangkai mawar merah padaku. Untuk siapa?
  "Lo bela-belain balik ke sini cuman buat ngambil itu? Emang gak bisa beli lagi?" tanyaku. Ada saja orang seperti Farris. Sungguh, ada apa dengan Farris?
  "Iya. Gua maunya bunga yang ini" 
  "Mau nembak orang?" Mulutku terasa sedikit pahit menanyakan hal itu. Apa aku jealous?
  "Iya. Si cewek itu" jawab farris. Oh, aku ingat. Cewek yang sealalu Farris ceritakan padaku. Yang selalu ia bangga-banggakan. Aku menatap Farris dengan agak sinis, dan itu reflek; murni dari hatiku.
  "Oh, dia. Kapan?"
  "Faster better. Eh, coba lo liat deh mawarnya. Bagus gak?" Farris meminta pendapatku tentang bunga gak penting itu? Sedikit layu, sih. Tapi bunga itu bukan untukku, jadi apa peduliku?
  "Bagus" Farris senyum-senyum mendengar jawabanku.
  "Menurut lo, kapan gua ngasihinnya?"
  "Terserah lo" jawabku dengan jutek. Ada apa denganku? Tapi, untuk apa aku berpikir banyak demi cewek yang tidak kukenal; yang akan Farris tembak.
  "Kok jadi jutek, sih? Jangan-jangan lo jealous ya?" Farris malah menggodaku. Betapa Farris bisa membacaku. Aku tidak mengaku, hanya memeletkan lidahku padanya.
  "Kalau lo yang gua kasih bunganya gimana?" tanya Farris. Ya ampun, FARRIS NEMBAK GUA! Eh, sebentar. Dia, kan, cuma nanya kalau aku mau dikasih bunga atau nggak. Dikasih bunga bukan berarti ditembak, kan?
  "Kenapa nawarin ke gua?" tanyaku penasaran.
  "Karena, emang dasarnya bunga ini buat lo" Farris menjawabnya. Namun yang kulihat dari matanya...gugup? No, I won't fly to the sky. Farris kan emang iseng. Aku duduk di tempat aku berdiri. Kakiku sangat pegal. Aku menopang dagu. Apa Farris serius?
  "Terus cewek itu?" tanyaku polos.
  "Yaa, kamu. Gak sadar?" Farris ikut duduk di hadapanku dengan mawar di tangan kirinya. Oh tidak oh tidak. Ini gak mungkin. Farris? Pikiranku melayang kembali ke awal petemuanku dengan Farris yang...kuakui, memalukan. Di hari pertama sekolah, aku sedang bermain jujur berani dengan teman SMP-ku. Aku memilih berani. Dan tahukah kamu? Aku ditantang untuk nge-dance di depan Farris. Waktu itu aku belum mengenalnya. Maka, aku jalani tantangan 'bodoh' itu dan Farris tertawa puas, seolah sangat terhibur. Setelah selesai, aku langsung menunduk sambil mengucapkan gomenasai berulang kali dan langsung kabur. Tidak kusangka, aku sekelas dengan Farris. Kalau aku berpikir bahwa Farris tidak peduli dengan kejadian memalukan itu, aku SALAH BESAR. Farris terlalu peduli sampai-sampai ingin mengumumkannya ke seisi kelas. Terpaksa aku 'menutup mulutnya'.
  "Heh, botak, ikut gua" Oke, mungkin itu bukan cara yang baik untuk menyapa orang. Tapi aku harus melakukannya. Aku pun menarik lengan bajunya. Membawanya ke luar kelas.
  "Apa-apaan lo?" Farris agak marah waktu itu.
  "Sorry, bro. Gua Serra. S-e-r-r-a. Lo?" tanyaku tanpa basa-basi.
  "Farris. F-a-r-r-i-s"
  "Please ya, gak usah bahas kejadian tadi pagi. Gua gasuka. Kan, tadi gua udah minta maaf"
  "Oh, ya? Tapi gua suka banget. Lo keliatan manis. Gimana, dong?" Di hari pertama sekolah, dia sudah iseng padaku. Sungguh aku benci cowok di hadapanku ini.
  "Oke, mungkin cara gua emang kasar. Tapi, tolong, dong"
  "Hmm, oke, gak akan gua sebarin. Tapi bantuin gua buat deketin seorang cewek" Kupikir itu syarat yang sangat mudah.
  "Siapa?" 
  "Lo gak perlu tau. Cukup bantuin gua aja" Great. Dia tidak membiarkanku memegang rahasianya.
  "Oke, gua setuju"
  "Deal?" Farris mengulurkan tangannya.
  "Deal"
     Tanganku menyambut tangan Farris tanpa pikir panjang. Dan sejak saat itu, aku dan Farris sudah seperti teman dekat. Cukup banyak yang salah mengartikan hubunganku dengan Farris, tapi akhirnya mereka tau. Aku dan Farris punya misi. Perjanjian pun dilaksanakan. Farris seringkali sms dan minta pendapatku tentang cewek itu. Apapun yang ku katakan, akan dia lakukan. Bahkan dia sering meneleponku berjam-jam hanya untuk membahas cewek itu. Aku heran, kenapa tidak ia habiskan saja pulsanya untuk menelepon cewek itu dan bukan meneleponku demi meminta pendapatku? Oh, ya. Aku lupa. Pulsa Farris tidak pernah habis. Bahkan terkadang ia membelikanku pulsa agar aku membalas smsnya. Farris Farris Farris. Aku berulang kali berusaha menghapus perasaan yang akhirnya tumbuh. Tapi aku tak yakin aku bisa. Apa saran terakhirku padanya, ya? Ah, ya. Aku mengatakan pada Farris kalau sebaiknya ia segera menembak cewek itu dengan alasan kelamaan PDKT itu gak bagus. Padahal, sebenarnya aku sudah lelah membahas cewek itu dengan Farris. Aku sakit. Cepatlah mereka jadian agar Farris berhenti membahas cewek itu denganku.
  "Nembak? Enaknya nembaknya gimana?" Tanya Farris waktu itu.
  "Kasih surprise aja. Cewek itu biasanya seneng dikasih surprise"
  "Tanggal?"
  "Masa gua yang nentuin juga? Angka yang gua suka aja ya, 5-8-11"
  "Makasih, Ra"
YA! Itu dia. Sejak itu, Farris tidak pernah meminta saran. Sebentar, aku ingin lihat tanggal.
  "Jangan bercanda, deh. Pinjem hape lo, cepetan" Aku mengadahkan tanganku, meminta segera.
  "Ini" Farris tersenyum padaku. Manisnyaaaaa, tapi aku tidak boleh melting. "Sekarang tanggal 5-8-11, Serra" Farris membacaku lagi. Aku mengelak seolah tebakannya salah.
  "Emang gua nanya tanggal?" Aku tersenyum meledek.
  "Oh, kirain. Mau fudul sms? Mending langsung buka My Folder. Ada folder namanya 'Serranian Zara'. Kalau di inbox, sms gak penting semua. Cek aja" Farris memperlakukanku dengan sangat manis. Begitu rapat Farris menyimpan semua ini. Bahkan aku tidak sadar sedikitpun.
  "Sms gua lo kasih folder? Hahaha, pasti lo takut lupa, ya, apa aja yang harus lo lakuin buat cewek itu? Wew" Perkataanku mulai ngelantur. Beginilah aku jika merasa gerogi.
  "Iya, gua takut lupa apa yang lo pikirin dan apa yang lo mau. Gua pengen, gua bisa menuhin semua itu" Farris menjawabnya dengan tenang. Kurasa, wajahku mulai memerah. Farris pun begitu. Tidak mau berlama-lama hanyut, aku mengembalikan hape Farris. DEG! Farris menggenggam tanganku yang memegang hapenya. Aku tidak pernah tau perasaan macam apa ini. Tapi rasanya begitu hangat dan...bahagia? Mungkin.
  "Eh?" hanya itu yang mampu meluncur dari mulutku. Farris tersenyum manis.
  "Please, Ra. Jangan ngulur waktu lagi. Oke, mungkin tadi belum jelas dan cuma tersirat. Tapi sekarang akan aku perjelas. Serranian Zara, I love you. I love you from the first we met. I love you in the way you are. Semua perjanjian dan pendapat kamu itu, cuma jalan aku mengenal dan ngedeketin kamu. Aku gak pernah bohong tentang cewek itu, kan? Aku gak pernah sebut nama, kan? Karena cewek itu tuh kamu. Kamu itu, mak comblang buat aku dan diri kamu sendiri. Semuanya udah cukup jelas, kan? So, may I be yours?" Ucapan Farris mengalir lembut di telingaku. Sebodoh itukah aku? Aku tidak menyadari sedikit pun tentang proyek Farris. Saat ini, kuberanikan diri melihat Farris. Tangan kanannya menggenggam tanganku dan tangan kirinya menggenggeam bunga mawar.
  "Gak perlu lo repot-repot nyiapin semua ini" Singkat. Aku tidak tahu harus berkata apa.
  "Maksudnya?" Air muka Farris berubah, sepertinya dia salah mengerti pernyataanku.
  "Mawar itu boleh jadi milik gua? Hati gua kan udah jadi milik lo, masa mawarnya gak boleh?" Kenapa aku jadi bergombal ria? Farris tertawa kecil, terlihat senang.
  "Boleh banget. Sekalian nih, bawa hati gua ke hati lo" Farris menyerahkan bunga itu padaku. Dengan manis, aku mengambilnya.
  "Makasih, Farris..." ucapku lembut.
  "Sama-sama, Serra-ku"
  "Eh?"
  "Kamu kan milik aku sekarang..."
  "Masa, sih?" Aku meledeknya lagi.
  "Ih, kok gitu?" Farris menampakkan wajah cemberutnya. Ingin aku cubit pipinya. Aku tertawa. Dan Farris pun kembali tersenyum. Oya, aku belum menjelaskan bentuk fisik Farris, ya? Baiklah, Farris itu tinggi, putih, botak (hampir semua cowok di angkatanku tidak punya rambut alias botak), matanya agak sipit, ganteng (karena banyak cewek yang suka sama dia. Tapi buktinya, kan, dia sukanya sama aku :) *eh?), dan yang terpenting adalah, senyumnya mengalihkan duniaku.
  "Kamu mau tau, kenapa aku suka sama kamu?" tanya Farris.
  "Ya. Kenapa?"
  "Kamu polos, apa adanya. Whatever what they'll say, kamu berani jadi diri kamu. Dan aku bisa liat sejak aku pertama kali ketemu kamu. Gak tau kenapa, rasanya aku pengen langsung nembak kamu di tempat. Cuman, gak lucu banget kali ya, langsung nembak gitu aja. Kesannya aku tuh playboy tulen" Sesederhana itukah Farris menyukaiku?
  "Serius kamu pengen nembak aku saat itu juga? Kalau aku... Kamu itu orang yang gak pernah aku sangka bakal jadi milik aku. Rasanya kamu tuh jauh banget. Tapi aku tetep suka kamu dan itu karena senyum kamu. Kalau aku inget senyum kamu, entah kenapa, aku pengen senyum mulu. Jadi keliatan gila, ya? Gak apa-apa deh. Jangan berhenti senyum buat aku, ya?" Aku memang bukan cewek yang manis, jadi aku tidak tahu bagaimana cara memperlakukan Farris.
  "WOY! PJ BISA KALI!" Aku langsung menoleh ke arah sumber suara. Farris pun begitu.
  "Mereka tau semuanya?" tanyaku pada Farris.
  "Iya. Maaf aku bohong. Mereka videoin malah"
  "Gak masalah. Aku jadi tau rasanya dikasih surprise" Aku tersenyum.
  "Untuk Serra, baris di hadapan saya! 5 4 3 2 1" Kak Lia berteriak dari kejauhan. Membuatku ingin protes. Apa mereka tidak mengerti kebahagiaanku? Aku berlari agar tidak terkena hitungan hukuman.
  "Siap" ujarku setelah berdiri tegap di hadapan Kak Lia.
  "Kami sebagai panitia, ingin mengucapkan selamat untuk kalian. Semoga langgeng dan makin hari makin cintaaaaaaa" Kak Lia memelukku. Udah? Meskipun agak bete, tapi ini perlakuan terbaik mereka untukku.
  "Makasih buat semuanya ya, Kak. Maaf waktu latihannya berkurang"
  "Gak kok. Emang harusnya habis istirahat kalian langsung pulang. Tapi mereka pengen liat katanya" ujar Kak Hari.
  "Serius? Ih Farris kebangetan deh... Malu kaaaa" ujarku sambil menutup wajah.
  "Serra?" panggil Farris yang sudah ada di sampingku.
  "Ya?"
  "Nanti pulang bareng, ya. Aku bawa helm 2" Farris mengacungkan kedua jari kanannya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
  "Udah, pulang gih" ujar Gilang. Dibarengi dengan anggukan dari teman-teman.
  "Besok makan-makan, ya?" kata Kak Rendi.
  "Beres, Kak" kata Farris menyanggupi. "Makasih ya, semuanya! Saya sama Serra pulang duluan" Farris telah memboikot hakku untuk berpamitan.
  "Dadah semuanya... Aku cinta kaliaaaan!" seruku sambil melambaikan tangan.
  "Cinta kita atau Farris?" Kak Lia malah menggodaku.
  "Eh? Hehehe, semuanya sih tapi ke Farris lebih" Aku hanya nyengir dan mengikuti Farris berjalan ke arah parkiran motor. Farris menyerahkan helm padaku. Aku langsung memakainya.
  "Aku udah lama pengen balik bareng. Cuman aku bingung apa alasannya" kata Farris.
  "Aku juga udah lama berharap diajak balik bareng sama kamu. Tapi kayaknya kamu pelit banget seolah jok belakang kamu cuma buat cewek itu" Aku berkata dengan sangat jujur.
  "Maaf ya, Serra... Sekarang jok belakang ini milik kamu..." Aku pun tersenyum mendengar jawabannya. Farris selalu mampu membuatku tersenyum. Ya, aku bahagia dan aku percaya saat bersama Farris aku akan lebih bahagia.

No comments:

Post a Comment