10.19.2014

Anda perlu tahu yang sebenarnya,
Saya hampir menyerah pada Anda.
Saya hampir merasa tidak seharusnya ada di lingkaran Anda.
Saya hampir pergi dan tidak peduli lagi dengan Anda.
Saya hampir membiarkan diri saya sendiri jatuh hati pada orang lain.
Karena Anda.
Tapi, Anda juga perlu tahu.
Saya punya janji yang harus saya penuhi pada Anda.
Saya harus tetap berada di lingkaran Anda.
Saya ingin selalu memastikan Anda baik-baik saja.
Saya tidak bisa membiarkan diri saya sendiri jatuh hati pada orang lain.
Karena Anda.
Dan Anda seharusnya perlu tahu.
Mereka bilang saya bodoh.
Mereka bilang saya payah.
Mereka bilang saya lemah.
Karena Anda.
Saya tidak peduli.
Karena Anda.
Mereka tidak tahu apa-apa tentang kita.
Mereka tidak mengerti apa-apa tentang kita.
Mereka tidak merasakan apa-apa tentang kita.
Maka saya tidak peduli.
Karena Anda

7.20.2014

Sewindu Lagi

            Berada di bidang yang sama dalam suatu kepanitiaan dengan mantan itu merupakan salah satu ujian hidup. Setidaknya itulah yang ku catat di otakku. Ya, aku berada di bidang dokumentasi dalam kepanitiaan pensi bersama dengan Farris; pacar yang baru saja putus 3 bulan yang lalu.
            “Wow. Bisa-bisanya Ari nempatin kalian di bidang yang sama” celetuk Rizka, yang menemaniku menatap papan pengumuman sekolah.
            “Mereka butuh kamera gua dan butuh desainnya Farris. Ya, gua bisa apa? Lu tau sendiri kalo gua pengen jadi dokumentator di kepanitiaan kan? Jadi, baiklaaah, welcome to the reality, Ra!” ucapku sambil membentangkan tangan. Rizka buru-buru menurunkannya.
            “Galau bener, sih, Mbak! Udah ah, ayo buru balik!” Rizka menarik lenganku menuju gerbang sekolah. Aku jadi berpikir. Apa, ya, reaksi Farris saat tahu kalau dia harus bekerja denganku? Senangkah? Kesalkah? Malaskah? Atau…sepertinya dia tidak peduli. Sudahlah, lagipula apa urusanku yang cuma mantannya? Ya, oke, mantan.
            Dan pulang sekolah hari ini bukanlah saat yang ku nantikan mengingat semalam aku mendapat sms jarkoman dari Ari. Entahlah, aku tidak tahu apa aku menginginkan pertemuan dengan Farris; rapat maksudku. Sekarang pukul 13.35, 25 menit lagi rapat dimulai. 25 menit lagi, aku akan duduk dekat Farris. Oke, aku akui kalau aku deg-degan. Apa Farris merasa begitu? Semakin aku memikirkannya semakin aku merasa…deg-degan. Rizka kemana, sih? Aku benar-benar butuh teman sekarang.
            Dari radius 50 meter, aku seperti melihat Farris berjalan ke arahku. Oh, mungkin lebih tepatnya ke arah ruang rapat yang berada di belakangku. Aku mencoba bernapas normal dan menghentikan gemuruh di dadaku. Semakin dekat Farris berjalan, aku berpikir dia hanya akan berjalan melewatiku begitu saja. Tapi aku salah.
            “Ra, gak ke dalem?” tanyanya datar. Ya, Tuhan, matanya…
            “Ngga, nunggu Rizka” jawabku sekedarnya. Lebih datar dan dingin. Mulut Farris hanya membentuk huruf ‘O’ dan berjalan masuk. Aku mengutuk diriku sendiri yang kelewat salting di depannya. Kenapa harus jutek, Ra?
            “Heh, maaf ya lama. Tadi gua disuruh beliin Aqua dulu sama Bu Melani” Rizka datang secara tiba-tiba.
            “You should know what happened before…” ucapku dengan wajah memelas. Rizka menatapku bingung sejenak, lalu tertawa.
            “Hahaha, ini baru awal. Masih ada 2 minggu lagi, coy!” Rizka sama sekali tidak membantu. “Yuk, absen” Rizka menarik lenganku. Saat kami masuk, di dalam sudah cukup ramai. Setidaknya 70% panitia sudah hadir di ruangan.
            “Duduknya per bidang ya, soalnya rapat pembukaan paling cuma 15 menit terus ntar dilanjut rapat bidang” kata Laras si sekretaris. Aku menghela napas berat, sedangkan Rizka mengangguk paham.
            “Selamat berjuang, Ra! Semangat! Haha” Rizka langsung meninggalkanku begitu saja menuju teman-teman humasnya. Sedangkan aku langsung melihat Farris. Duh, radarku ini benar-benar, ya… Aku berjalan menuju tempat Farris duduk. Aku berharap aku duduk dengan siapa saja yang bukan Farris. Sialnya, karena aku datang terakhir di bidangku, aku harus duduk di sebelah Farris. Farris tidak berkomentar apapun saat aku duduk. Tidak menyapa juga. Ya, apa yang bisa aku harapkan setelah aku bersikap jutek padanya… Farris sedang mengobrol seru dengan Fira, anak bidang konsumsi. Aku pura-pura sibuk bermain game sambil sesekali menguping obrolan mereka. Gak mutu, sih, obrolannya. Tapi, mereka terlihat sangat asyik. Membuatku sedikit iri.
            “Ya, selamat siang dan selamat datang di rapat perdana Pensi 2014. Semua hape tolong dimasukkan ke tasnya masing-masing dulu. Saya, Ari Prakasa, selaku ketua pelaksana sebelumnya ingin mengucapkan terima kasih…” Ari berdiri di hadapan kami dan menjelaskan secara singkat tugas umum setiap bidang. Kemudian dia juga mengumumkan koordinator bidang. Ya, mana mungkin aku jadi koordinator bidang. Aku duduk saja dengan manis, menunggu untuk tahu siapa koordinator bidangku. “… Bidang dokumentasi dikoordinir Serranian Zara…” Ooh, yang jadi co-ku si Serra.
            “Ra, lu gak maju?” Farris menatapku bingung.
            “Maju? Ngapain?” tanyaku heran.
            “Koordinator kan disuruh maju” ujar Farris.
            “Emang siapa co kita? Ser…ra? Hah? Gua co?” ucapku panik, membuat seisi ruangan menoleh padaku bingung.
            “Ayo, Ra, maju aja” ucap Ari sambil tersenyum penuh arti. Setengah shock, aku tetap maju dan berdiri bersama koordinator bidang lain. Aku masih tidak habis pikir, kenapa aku? Kenapa bukan Farris, atau Keisya, atau Sam? Kenapa aku?
            “… Jadi, setelah ini silakan rapat masing-masing bidang. Untuk para koordinator bidang, dipersilakan kembali ke tempatnya masing-masing” Ari menutup rapat pembuka hari ini. Aku segera kembali ke tempat duduk sambil bingung.
            “Ayo, Ra, kita mulai” kata Farris mengingatkan. Aku menghela napas. Takdir macam apa ini? Sebidang dengan Farris sekaligus menjadi co-nya. Setelah aku sadari, bidang dokumentasi hanya berjumlah 6 orang termasuk aku.
            “Well, hai. Gua gatau kenapa gua ujug-ujug jadi co. Tapi gua dari lubuk hati paling dalam pengen bilang kalo gua sangat butuh bantuan kalian. Gua juga gak ngerti apa-apa masalah desain. Jadi, disini, siapa aja yang bisa desain?” tanyaku. Syukurlah, mereka berlima bisa. Apa? Mereka semua bisa? “Oh, ternyata cuma gua yang gak bisa di sini. Kalau gitu, kita bagi tugas aja…” Aku berusaha membagi tugas. Banyak desain yang harus dikerjakan. Selain itu, aku juga memastikan kamera dan memori yang kami miliki. Syukurlah (lagi), masing-masing punya kamera dan memori yang cukup. Ternyata aku berada di tim yang sudah professional. “Oke, kita kumpul 3 hari lagi, gua harap desain udah jadi dan kita bisa ngefixin langsung desainnya. By the way, gua minta nomor hape kalian semua, dong. Tulis di sini ya” Aku menyerahkan secarik kertas dan pulpen. Mereka menuliskan masing-masing. Termasuk Farris. Aku melupakannya sesaat karena kepanikan menjadi co bidang. Setelah itu, mereka langsung pulang. Kecuali Farris.
            “Ra,” panggil Farris saat aku hendak pulang. Mana bisa aku tetap berada di sebelah Farris dan bersikap biasa saja…
            “Kenapa?” tanyaku. Aku masih mencoba terlihat normal. Mencoba melihat ke wajah Farris. Aku merindukannya, sungguh.
            “Lu pantes kok jadi co. Jangan ngerasa lu gak bisa. Lu gak kerja sendirian di sini” Farris menatapku, kemudian tersenyum. Saat aku membeku, berusaha mencerna ucapannya, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Farris memang memahamiku. Aku pun tersenyum dan sebisa mungkin mengingat selalu ucapannya sambil berjalan keluar ruangan.
            2 hari setelahnya, aku mengirim sms untuk mengingatkan kumpul besoknya. Ah, ini sudah 1 minggu sejak aku tidak smsan dengan Farris. Ya, begitulah, smsan dengan Farris itu musiman. Kalau mood, kalau ada perlu, kalau ada cerita. Setelah mengirimkan kepada semua anggota, aku membaca ulang isi smsan ku dengan Farris. Beberapa kali aku tersenyum sendiri membacanya. Sayang sekali, aku sudah menghapus semua smsnya sebelum putus. Aku berpikir waktu itu memang semua harus dimulai dari awal lagi. Aku berteman dengannya di awal, jadi aku harus tetap berteman dengannya pada awal yang baru. Duh, perasaan macam ini datang lagi. Setiap kali begitu, aku selalu mengetik apa yang ku rasakan, tanpa mengirimnya. Atau sekedar mengirim pesan di twitter dan facebook-nya yang sudah tidak aktif. Kali ini aku mengulanginya lagi. Jemariku mengetikkan ‘Ris, Serra kangen Farris’ dan ketika aku hendak menekan ‘Back’, yang terjadi adalah ‘Send’. Ini kebodohanku yang ke berapa? Aku bingung apa aku harus mengetik ‘Maaf, Ris, kepencet’ tapi tetap saja dia tahu aku kangen. Kalau aku tidak mengkonfirmasi, dikira aku gak tau diri. Daripada aku kesal sendiri, aku langsung mematikan hape dan tidur. Besok, mau ditaro di mana mukaku???
            Aku berjalan gontai saat masuk kelas. Rizka siap menyambutku dengan sejuta pertanyaan. Ngomong-ngomong, Farris tidak membalas sms dariku semalam; atau paginya. Padahal dia on twitter sampai larut malam. Sepertinya dia malas dan risi membaca smsku. Biarlah nanti saja aku minta maaf setelah rapat.
            “Kenapa lu… ah, udahlah” Tuh. Bahkan, seorang Rizka pun tidak bisa memberi komentar apapun mengenai kebodohanku. “Lu bersikap biasa aja nanti pas ketemu”
            “Ya, emang gua mau ngelakuin apa lagi? Ntar gua minta maafnya langsung deh” ucapku. “Semoga aja gua gak ketemu dia sebelum rapat. Antara malu dan…gitulah”
            “Ra, gua mau nanya deh sama lu. Perasaan lu ke Farris tuh gimana sih sebenernya? Gua tau kalo lu belom move on, tapi, perasaan macam apa yang lu punya?” tanya Rizka. Menohok.
            “Gua gatau. Gua masih deg-degan dan panik kalau ngeliat dia. Gua masih suka flashback. Mungkin gua masih sayang, meskipun dia ngga” jawabku sekenanya. Aku terlalu pusing bertanya pada diriku sendiri maunya apa dan bagaimana.
            “Well, why don’t you ask?” tanya Rizka. Aku langsung menatapnya. Berpikir. Ada benarnya. Ya, tidak perlu balikan. Aku hanya sebatas ingin tau yang dia rasakan, agar aku bisa kontrol diriku sendiri.
            “Kalau gua udah siap nanya” Aku menatap kosong. 15 menit kemudian, aku sudah membuat keributan di kelas dengan nyanyianku yang out of tones. I don’t care.
            Jam pulang sekolah sudah tiba. Aku akan segera bertemu dengan Farris. Seharian aku tidak keluar kelas kecuali ke wc. Jadi, aku tidak sekalipun melihat atau bertemu dengan Farris. Saat aku menuju kantin; tempat kami janji berkumpul; baru ada Farris di sana. Baiklah, lebih baik aku bicara padanya dulu sebelum yang lain datang. Farris tampak sibuk dengan laptopnya tanpa sama sekali menghiraukan kehadiranku.
            “Hai, Ris. Yang lain kok belum dateng?” tanyaku. Mencoba normal.
            “Gatau, belum bubaran semua kali” jawabnya datar.
            “Ris. Lagi sibuk ngapain? Gua pengen liat desain lu dong” pintaku.
            “Nanti aja bareng yang lain biar gua jelasinnya gak dua kali” jawabnya datar (lagi).
            “Oh, oke” Kemudian hening. Bagaimana ini? Apa aku minta maaf sekarang? Oke, 1… 2… 3… “Ris gua minta maaf yang kemaren. Gua gatau kalo itu bakal ke send. Kebetulan aja gua lagi baca-baca sms kita dulu terus gua ngerasa begitu jadi gua ketik. Eh, malah kepencet. Maaf” ucapku dengan cepat.
            “Iya” jawabnya singkat. Udah? Gitu doang jawabnya? Berhubung aku yang minta maaf, aku tidak akan protes apa-apa padanya. Sebelum keheningan ini benar-benar menyiksaku, anggota lain akhirnya berkumpul dan rapat kecil bisa dimulai. Masing-masing memberikan penjelasan desain dan diskusi ini berjalan hidup. Beberapa mengajukan ide baru yang langsung diaplikasikan dan Voila! This is it! Semua desain sudah selesai dengan sempurna dan; menurutku; kece badai.
            “Makasih ya, kalian. Desainnya bagus banget. Besok atau lusa ada yang bisa ke percetakan?” tanyaku takut-takut. Aku tidak mengerti apa-apa tentang ini. Jadi maklumi saja.
            “Biasanya gua kok, Ra, yang ke sana. Tapi lusa bisanya. Duitnya udah cair belom? Minimal buat DP mah udah ada gitu” kata Sam. Aku mengangguk sambil tersenyum.
            “Kata Ari, uangnya turun besok. Sekalian gua mau ngasih tau Ari hasil desainnya. Jadi besok gua langsung kasih uangnya ke lu dan lusanya lu langsung ke percetakan” ujarku. Mudah sekali menjadi co…
            “Oke, Ra. Gua tunggu besok” kata Sam.
            “Oya, Ra. Kayaknya kalo kamera cuma ada 6 terlalu pas-pasan deh. Maksudnya kan kita masing-masing bakal megang satu. Terus kalau baterenya habis kan berarti harus ada cadangan kamera kan?” tanya Keisya.
            “Kalau cadangannya 3 cukup gak, Sya? Pas lagi make kamera cadangan, yang abis di charge dulu” tanyaku. Keisya mengangguk. “Ada yang punya kamera 2? Mau digital atau slr sama aja kok. Gua ada satu”. Aku melihat Keisya dan Bella mengacungkan jari. Sudah selesai tugasku. Tinggal membeli name tag, menunggu hasil cetakan dan memasangnya, lalu kerja pada hari-H. Syukurlah… “Kalau gitu sampai di sini aja dulu rapatnya. Nanti tolong kabarin gua kalo banner, name tag, dan lainnya udah jadi. Paling kita kumpul lagi H-3 setelah rapat besar. Makasih semuanya” Seperti kemarin, tertinggal aku dan Farris. Tanpa pembicaraan apapun kali ini. Tanpa senyum di wajah Farris maupun wajahku. Aku langsung saja pulang tanpa pamit padanya. Entah kenapa, hatiku sakit sendiri melakukannya.
            Setelah 5 hari berjalan tanpa ada kumpul sama sekali, aku setengah sedih setengah bersyukur. Aku hanya sesekali papasan dengan Farris, dan dia hanya melewatiku begitu saja. Aku pun tidak pernah berusaha menyapa duluan. Hari ini H-3 acara Pensi dan ada rapat besar. Hari ini juga semua hasil cetakan bisa diambil.
            “Ra, setelah rapat kecil itu lu jadi betean mulu orangnya. Udahan dooong, jadi gak seru kalo gua nyanyi lunya diem aja” kata Rizka.
            “Maaf, Riz… Ah, nyebut nama depan lu mengingatkan gua. Maksud gua maaf ya, Ka…” kataku tanpa semangat.
            “Kayaknya lu harus ngobrol serius deh sama dia, Ra. Gak bisa lah kalo lu jadi gak semangat hidup gini cuma gara-gara dicuekin sama dia” kata Rizka sewot. “Pokoknya harus ngobrol”
            “Iya… Yaudah, yuk, ke ruang rapat. Kita udah telat” ajakku mengalihkan pembicaraan. Aku merasa tidak punya cukup keberanian untuk bicara. Tapi…kalau menulis?
            “Rapatnya udah mulai. Kalian telat” kata Laras saat kami absen.
            “Iya tadi kita udah bilang Ari kalau wali kelas kita masuk dulu abis jam pulang” ujar Rizka menjelaskan. Saat masuk ke ruang rapat, semua mata tertuju pada kami.
            “Akhirnya kalian dateng, gini teman-teman, tadi wali kelas mereka masuk kelas setelah jam pulang dan mereka udah izin ke saya” kata Ari dengan wibawanya. “Rizka boleh langsung duduk, kalau Serra, berhubung sekarang lagi dalam rangka penjabaran hasil kerja, jadi silakan mewakili bidang dokumentasi menjelaskan sekarang” Ari memberikan senyum manisnya. Sial. Baru juga datang ke sini, langsung disuruh bicara. Mau tidak mau aku langsung memberikan penjelasan tentang apa yang sudah kami; tim dokumentasi; kerjakan tanpa persiapan. Setelah itu aku duduk, di sebelah Farris. Rapat hari ini berlangsung lumayan lama, jadi ku rasa, lebih baik besok saja memasang semuanya.
            Sesampainya di rumah, aku teringat perihal menulis. Setelah mandi dan makan malam, aku langsung mengambil kertas dan pulpen. Awalnya aku tidak tahu harus menulis apa dan memulai dari mana. Tapi akhirnya tanganku bergerak sesuai perintah hati dan tidak ku sangka aku menangis. Ini benar-benar luapan emosiku yang tidak pernah aku utarakan kecuali dalam doaku. Selesailah sudah, curahan hati dalam 2 lembar hvs. Ini seperti lomba mengarang saja…
            H-2 acara Pensi. Aku, Keisya, dan Bella sibuk memasukkan kertas name tag ke tempatnya, sementara Farris, Sam, dan Rei memasang banner. Setelah selesai semuanya, aku menyuruh mereka semua pulang karena hari juga sudah malam. Beberapa panitia bidang lain masih sibuk di dalam aula untuk dekorasi. Terlihat Farris yang masih beres-beres tasnya. Aku langsung menghampirinya.
            “Ris, ini ada kertas. Maaf gua pengen ngomong tapi gua gabisa. Jadi gua nulis di situ” Setelah menyerahkan suratnya, aku langsung buru-buru pulang. Apapun itu reaksinya, yang penting aku sudah bilang padanya. Dadaku sesak karena tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya.
            H-1 acara Pensi. Siapa sangka Farris paginya sudah ada di depan kelasku? Berpikir tidak ada hubungannya denganku, aku langsung masuk kelas. Namun, Farris memanggilku.
            “Ra, ada waktu bentar?” tanyanya. Di tangannya, sepucuk curahan hatiku. Aku duduk di bangku depan kelasku, diikuti Farris.
            “Gua udah baca kok. Makasih lu udah sebegininya sama gua. Gua…ngerasa kita harus ngobrol lama. Banyak yang harus gua sampein. Pulang rapat bisa?” tanya Farris dengan ekspresi datar.
            “Iya, bisa kok” jawabku seadanya.
            “Oke, sampai ketemu nanti” Farris langsung kembali ke kelasnya. Aku sungguh tidak tenang setelahnya.
            Dan…hari ini seolah berjalan terlalu cepat. Semua sibuk dengan dekorasi aula dan tugas lainnya. Saat ini sudah pukul 7 malam. Tugasku sudah selesai dari tadi. Tapi berhubung aku janji dengan Farris dan dia masih tugas untuk check sound, mau tidak mau aku menunggunya. Perutku terasa lapar, karena ini memang jam makan malam.
“Sendirian aja, neng” ucap seseorang membuatku kaget. Oh, ternyata Ari.
“Elu, Ri, gua kira siapa. Ada apa, Ri?” tanyaku.
“Lagi nungguin Farris, ya? Hehehe, mau ke mana, sih?” Ari tahu dari mana? Berpikir, Ra, berpikir. Oya, kan Ari teman dekat Farris di kelas 11.
“Hehehe ke mana atuh ya… Ada yang harus diobrolin aja, Ri” jawabku sambil tersenyum. Ari tertawa kecil mendengarnya.
“Lu tau, gak? Yang jadiin lu co kan Farris. Awalnya gua milih dia, tapi dia minta lu aja yang jadi co. Sejujurnya, gua agak ragu sih sama lu, tapi Farris cuma nyuruh gua liat hasil kerjanya. And congratulations for your team! You did it well” ujar Ari sambil tepuk tangan sendiri di depan wajahku.
“Ah, ngibul aja lu. Lu cuma nyoba-nyoba kan milih gua jadi co hahaha”
“Kalo bukan Farris yang minta, gua gak akan jadiin lu co, Ra”
“Kenapa dia ngelakuin itu, Ri? Kenapa gua?” tanyaku penasaran.
“Kenapa gak tanya nanti pas ngobrol?” Ari mengedipkan sebelah matanya. “Gua ke aula dulu ya, mau liat proggressnya. Bye” Ari langsung pergi meninggalkanku. Aku tidak akan lupa menanyakannya nanti.
 Akhirnya, Farris selesai juga. Setelah ada perbincangan sedikit tentang dimana-kita-akan-bicara, akhirnya diputuskan di tempat makan di jalan pulang ke rumahku. Aku sudah 17 tahun dan punya SIM, jadi aku mengendarai motor. Farris? Sejak kelas 10 dia sudah rutin bawa motor. Dan terjadilah iring-iringan motor. Sesampainya di tempat makan dan memesan makanan, kami memulai pembicaraan.
            “Well, sekarang saatnya kita ngobrol. Gua pengen meluruskan kesalahpahaman kita, Ra. Gua sangat berterima kasih sama lu karena masih care sama gua. Gua… apa ya? Hehehe” Farris malah tertawa sendiri. Aku bingung melihatnya seperti itu. “Duh, gua jadi malu-malu sendiri ngomongnya. Berasa kayak pas nembak lu aja nih haha”. Aku ikut tertawa mendengarnya. Jadi, inilah sebenarnya kami, tidak bisa bicara serius. Perlahan, aku menikmati pembicaraan ini.
            “Gua jadi keinget pas lu nembak gua tengah lapangan depan anak passus hahaha” ucapku santai. Diiringi tawa kami, semua begitu lucu dan konyol. Sekaligus menjadi kenangan yang tidak bisa ku lupakan.
            “Hahaha gua ngerasa konyol banget pas itu. Tapi gua gak nyesel kok” kata Farris sambil tersenyum. Aku menatapnya polos. “Ra, bukan berarti gua udah gak ada rasa sama lu. Entah kenapa, gua ngerasa kalo gua masih sangat peduli sama keadaan lu. Meskipun gua jarang banget nunjukkinnya ke lu” Farris menghela napas sejenak. “Umur kita sekarang berapa, Ra?”
            “17 menuju 18. Kenapa?” Aku bingung, apa hubungannya dengan umur?
            “Gua pengen nanti aja gua nunjukkin kepedulian gua sama lu. Sekarang gua gak punya apa-apa buat dibanggain. Gua masih harus ngejar cita-cita gua. Lu juga, kan? Gua gak menjanjikannya sama lu. Ini di luar kekuasaan gua, Ra. Kalo kita udah sukses nanti, kita bakal nemuin orang yang terbaik buat kita kok. Lu percaya itu, kan?” Farris tersenyum.
            “Iya, gua percaya. Gua juga punya pikiran itu kok, Ris. Bukan buat nunggu lu, tapi buat ngeraih cita-cita gua. Kalau emang ditakdirkannya kita ketemu juga pasti ketemu, kan? I believe on that” ujarku yakin.
            “Nah gitu. Ini baru Serra yang gua sayang… eh, kenal maksudnya” kata Farris bercanda. “Kita jalanin aja yang seharusnya dijalanin, kita perjuangin apa yang seharusnya diperjuangin. Ini bukan saatnya kita main-main sama perasaan kita. Simpen aja dulu buat orang yang tepat nanti” Aku mengangguk-angguk setuju. Tiba-tiba aku teringat obrolanku dengan Ari tadi saat menunggu Farris.
            “Ris, gua mau nanya dong” ucapku. Farris hanya menoleh dan menunggu ditanya. “Kenapa lu ngusulin gua yang jadi co ke Ari?”
            “Ari emang gak bisa ngejaga rahasia orang ya…” Farris menggeleng-gelengkan kepalanya. Ngomong-ngomong, rambut Farris udah gondrong…
            “Emang itu rahasia?” tanyaku tanpa berpikir.
            “Enggak sih, cuma gua gak nyangka aja dia udah ngasih tau lu secepat ini. Yaa, alasan utamanya sih karena gua pengen lu sms gua meskipun itu jarkoman dan juga pengen mandangin lu pas lagi ngomong di depan bidang dokumentasi ataupun depan kelas kayak kemaren. Tapi alasan buat ngeyakinin Ari, karena lu emang punya jiwa ngatur kok hahaha. Lu jago organisasi” Farris menjelaskan dengan sangat lempeng. Sukses membuat membuat wajahku memerah terutama di bagian ‘memandang’.
            “Oh…jadi gitu yaa… Terus kalau yang pas gua gak sengaja kekirim itu…lu marah sama gua, Ris?” tanyaku penasaran.
            “Ngga. Gua senyum-senyum sendiri kok pas baca sms itu. Tapi gua sebisa mungkin nahan buat sms ‘iya gua juga’ ke lu. Jadilah gua gak bales. Terus besoknya, karena gua terlalu bingung harus bilang apa. Tuh, kan, sekarang malah gua beberin sendiri ke lu, hahaha. Gua lagi belajar nahan diri, Ra. Jadi, lu bisa lakuin hal yang sama, kan?” Farris kembali menjelaskan dengan kalem. Tuhan…matanya… Aku mengangguk mantap. Tentu saja aku harus bisa.
            “Yaudah, lega rasanya udah ngobrol begini. Yuk, gua anter pulang. Iring-iringan aja kayak tadi, hehehe” kata Farris tersenyum sangat-manis-sekali.
            “Lu gak cape apa? Besok kan harus dateng pagi” Kalau dia pulang kemaleman, kena angin malam, terus capek, sakit, dan…
            “Buat lu apa sih, Ra, yang ngga?” Farris tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. Oh my God, aku jadi tidak bisa berpikir untuk memberikan penolakan apapun. Aku yakin wajahku sudah seperti udang rebus. Aku akan selalu ingat malam ini.
            Hari-H. Hari ini akhirnya datang juga. Aku dan teman-teman sibuk jeprat jepret sana sini untuk memberikan kenangan Pensi lewat foto dan video. Saat ini aku sedang standby video. Sekolah kami berhasil mengundang SO7 sebagai guest star dan saat ini Om Duta tengah bernyanyi lagu Itu Aku. Aku melihat Farris berjalan ke arahku. Tidak lagi mengabaikannya, aku tersenyum.
            “Ra, berhubung gua gak bisa nyanyi, lagu ini buat lu ya. Oya, nanti ada film pendek, lu tonton ya. Itu juga buat lu” Farris berbisik di telingaku, tersenyum, lalu kembali bekerja. Aku jadi terdiam mendengarkan alunan lagu sambil senyum-senyum sendiri. Farris selalu punya cara membuat aku mengapung seperti ini. Terasa cepat sekali lagu itu selesai mengalun. Setelahnya, diputar film pendek buatan Farris dan kawan-kawan. Mengingat Farris bilang film itu buatku, aku jadi menyimak dengan detail setiap dialog yang diutarakan. Banyak sekali rasanya yang Farris sampaikan di sana. Terutama pesan mengenai ‘saling menjaga hati’. Manis sekali Farris melakukan semua ini. Tak kusangka, orangnya sudah ada di sebelahku.

            “Serra,” Farris tersenyum. “Sewindu lagi, ya” Membuatku ikut tersenyum.

Cerpen lanjutan dari 'Aku?'

12.21.2013




Let 'em wonder how we got this far
'Cause I don't really need to wonder at all
Yeah after all this time
I'm still into you...




11.05.2013

7.15.2013

If you've found someone else, maybe I would have found mine later.
But if you still don't find anyone else, maybe we will be together later.

4.18.2013






Because when 8 lays down, 
It becomes infinite∞